Filosofi BrandRANTIK /RANTAU TARIK

Berawal dari Sejarah desa, sebelum menjadi nama desa Tabalar muara , kampung kami Bernama Rantau Tarik. Rantau Tarik sendiri memiliki history yaitu siapapun yang pernah datang / berkunjung kesana pasti suatu saat akan Kembali lagi dan harapan kami semoga konsumen yang sudah membeli produk kami akan tertarik untuk membeli lagi.

Warna Kuning melambangkan sebuah keoptimisan dan kreatifitas dalam membuat sebuah produk. Selain itu warna kuning juga warna dari matahari yang bersinar yang sesuai dengan harapan kami semoga akan terus bersinar dan memberi manfaat bagi warga sekitar.

Tulisan berbentuk ikan karena Sebagian besar pekerjaan disana adalah nelayan yang notabenenya pendapatan hasil laut adalah ikan dan udang.

Alamat:

Tabalar Muara RT 04, Desa/Kelurahan Tabalar Muara, Kec. Tabalar Kab. Berau. Prov. Kalimatan Timur 77372

WA: +6282255342988

Contact info

Kampung Tabalar Muara adalah salah satu dari 6 desa di Kecamatan Tabalar. Desa ini terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tabalar yang ditutupi oleh ekosistem mangrove di daerah pesisir. Batas administrasi relatif jelas di utara, barat dan timur Desa Tabalar Muara. Namun, ada masalah di perbatasan Selatan. Lempake, desa tetangga yang berbatasan dengan Tabalar Muara ingin mengambil beberapa daerah di selatan. (Dari sungai Tayyong ke sungai Udang). Berdasarkan perhitungan poligon usulan Lempake, Desa Tabalar Muara memiliki luas 5.888 hektar.
  • Berawal dari Sejarah desa, sebelum menjadi nama desa Tabalar muara , kampung kami Bernama Rantau Tarik. Rantau Tarik sendiri memiliki history yaitu siapapun yang pernah datang / berkunjung kesana pasti suatu saat akan Kembali lagi dan harapan kami semoga konsumen yang sudah membeli produk kami akan tertarik untuk membeli lagi.
  • Warna Kuning melambangkan sebuah keoptimisan dan kreatifitas dalam membuat sebuah produk. Selain itu warna kuning juga warna dari matahari yang bersinar yang sesuai dengan harapan kami semoga akan terus bersinar dan memberi manfaat bagi warga sekitar.
  • Tulisan berbentuk ikan karena Sebagian besar pekerjaan disana adalah nelayan yang notabenenya pendapatan hasil laut adalah ikan dan udang.
Wilayah Kampung Tabalar Muara berbatasan langsung  dengan  wiIayah lautan, atau merupakan daerah pesisir dan identik mata pencahariannya sepagai Nelayan dan Petambak. Sedangkan sebagian Besar merupakan wilayah daratan dan identic dengan penduduknya berprofesi sebagai Pekebun dan Petani. Kampung Tabalar Muara di RT.03 dan RT.04 merupakan kampung nelayan yang dikenal sebagai daerah penghasil udang tangkap, Udang Tambak , Ikan Kering  dan terasi di Kabupaten Berau. Khusus untuk Terasi banyak di produksi dan langsung dikirim ke Lombok (NTB). Namun sekarang ini Terasi dan Aneka makanan olahan sudah mulai di produksi dengan beraneka macam dan kemasan oleh Kelompok Perempuan di 2 RT ini. Setidaknya sudah ada 2 Merek produk Terasi dan Makanan Olahan yang sudah dipasarkan di Toko-toko Swalayan di Kabupaten Berau (Produk Rantrik dan Produk Tabara).

Dengan jumlah penduduk 3.280 jiwa yang tersebar di 4 RT (Rukun Tetangga), Tabalar Muara di masa lalu bernama desa “Rantau Tarik”. Nama Rantau Tarik diambil sebagai simbol bahwa desa menjadi padat oleh para migran. Pemukiman migran pertama dari Sulawesi Selatan dibangun di daerah pesisir sekitar tahun 1940-an.

Berdasarkan informasi tetua desa, orang pertama yang tiba di pesisir bernama “Punggawa Kacong, Genda, dan Masang” dari Bone, Sulawesi Selatan. Pemukiman pertama di daerah pantai yang disebut “Kampung Kangkung”.

Pada tahun 1960, beberapa migran dari Sulawesi mencoba mencari tempat lain untuk bertani di daratan. Akhirnya mereka bertemu Dayak Etnis Basap di daratan. Etnis Basap adalah salah satu etnis asal di Kalimantan Timur. Pada awalnya, mereka bekerja sama sebagai petani padi. Bahkan beberapa migran mengikuti Basap untuk menggunakan lahan sebagai ladang berpindah pertanian padi (Ladang Bergilir). Sekarang, Basap kebanyakan tinggal di Desa Tabalar Ulu, yang terletak di hulu Sungai Tabalar. Selain pendatang langsung dari Sulawesi Selatan, beberapa migran dari etnis bugis datang ke Tabalar Muara dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka tiba di Tabalar Muara pada tahun 1970-an. Beberapa dari mereka menjadikan Tabalar Muara sebagai lokasi migran kedua mereka. Hanya sedikit migran bugis yang lahir di NTB. Sebagian besar berasal dari Bone, Sulawesi Selatan.

Kampung Tabalar Muara terbagi menjadi 4 RT (Rukun Tetangga) yang terbagi menjadi 2 wilayah yaitu Penduduk yang ada di Daratan merupakan RT.01 dan RT.02 dengan rata-rata ber profesi sebagai Pekebun atau Petani Kelapa Sawit  dan di wilayah Pesisir dan  Sungai merupakan RT. 03 dan RT. 04 dengan profesi rata-rata sebagai Nelayan dan Petambak.

Jarak Kampung Tabalar Muara dari Tanjung Redeb (Ibukota Kab. Berau) sekitar 125 kilometer dan dapat ditempuh dengan kendaraan darat dengan waktu sekitar  3 jam perjalanan.  Sedangkan Jarak dari kota Kecamatan ke Desa Tabalar Muara dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Kampung Tabalar Muara memiliki luas wilayah 269,34 km2. Selain transportasi darat, Desa Tabalar Muara juga dapat ditempuh dari jalur laut dan sungai menggunakan speed boat dan dompeng dengan waktu yang lebih lama sekitar  5 jam, tetapi biaya perjalanan cukup mahal jika dibandingkan dengan jalur darat.
Produksi unggulan dari Kampung Tabalar Muara adalah terasi  dan Ikan Asin.  Terasi hasil olahan Kampung Tabalar Muara sudah dikenal miliki rasa yang sangat enak.  Terasi Kampung Tabalar Muara adalah terasi asli berbahan baku udang segar.  Terasi sudah dikirim sampai ke Pulau Lombok (NTT), sementara Produk Ikan asin sudah dikirim hamper di sejumlah kota besar di propinsi Kalimantan Timur.
Perijinan
Photo